Senin, 16 Februari 2009

"Perumpamaan" Relasi Hamba-Tuhan"

Relasi antara hamba(‘abd) dengan Tuhannya (ma‘bud) diumpamakan seperti dua hal. Pertama,Sebagaimana gelombang cahaya, sinar matahari akan sampai dan diserap bumi jika langit berawan tanpa kabut. Kabut-kabut atau noda-noda di daerah atmosphere bumi akan menghalangi masuknya cahaya matahari. Demikian juga kotoran-kotoran dalam hati seorang hamba akan membuat cahaya Ilaahi tidak dapat diterima secara penuh dan jernih oleh hati. Demikian juga seorang hamba yang kafir yang tidak mengakui adanya Tuhan, secara otomatis cahaya tidak akan masuk dalam hatinya, karena hatinya telah menyangkal adanya cahaya itu sendiri. Kedua, Laksana alam jagad raya. Tuhan adalah sumber kehidupan (ruhani). Hati yang hidup akan selalu mendapatkan siraman air penyejuk dahaga kalbu dari sumber mata air kehidupan. Sementara hati yang sakit, disebabkan ia jarang mendapatkan siraman air dari mata air kehidupan, karena ia jarang berdzikir. Sedangkan orang –orang yang ingkar berdzikir, maka hatinya akan mati, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits seseorang yang tidak ‘berdzikir’ selama 40 hari, maka hatinya akan keras membatu.
Ketika seseorang mendawamkan dzikir, maka ia harus menciptakan suatu kondisi agar dzikirnya benar-benar membekas dalam dirinya. Agar dirinya konsen dzikir pada Tuhannya, maka seorang mudzakkir harus melupakan hal-hal selain-Nya, minimal mengurangi memikirkan hal-hal lain yang tidak berguna. Salah satunya adalah dengan puasa. Dengan puasa, seseorang akan menjauhi makanan, minuman, hal duniawi, dan nafsu angkara lainnya karena ia membatalkan puasa. Diri (ego, atau khudi dalam bahasa Iqbal) secara otomatis akan berusaha menjauhinya, meski pada awalnya takut membatalkan puasa, tapi fokus tujuan akhirnya adalah Allah semata. Dan diri termotivasi untuk melakukan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar